Tampilkan postingan dengan label task(s). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label task(s). Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2013

Mrs. Jayus *oups!

Hell-o, saya hadir kembali. Kali ini dengan mengusung tugas negara ( lebay!). oke, kali ini tugas negara didapatkan dari mandat dadakan via badai halilintar seorang menteri pendidikan bernama Lussy blablabla ( saya lupa nama lengkap beliau dikarenakan terlalu panjang dan jauh berbeda dari nama di sebuah akun jejaring sosialnya. Fyi, beliau ini rada jayus dan garing, jadi wajar sajalah jika nama aslinya terlupakan oleh saya *sungkem sama bu Lussy* ).

Kebutuhan Manusia Akan Pendidikan
● Definisi Pendidikan
Menurut saya, pendidikan adalah sesuatu yang wajib dan pasti didapatkan oleh setiap manusia dari siapa saja/ apa saja yang ditemuinya. Mengapa demikian? Karena bagi saya pendidikan itu tidak harus didapatkan di bangku sekolah dengan seragam lengkap atau di bangku kuliah. Pendidikan juga tidak harus bersifat formal, tetapi juga informal. Setelah dilahirkan ke dunia, maka orang tua ( dan anggota keluarga lain) adalah orang- orang yang sangat berperan dalam memberikan pendidikan pertama kali bagi si bayi, baik itu pendidikan dalam bidang akademis, moral, maupun spiritual, sehingga orang- orang ini lah yang sedikit-banyak menentukan akan menjadi manusia seperti apa anak itu nantinya. Memasuki usia SD-SMA pendidikan (tambahan) yang diterima oleh seseorang didapatkan dari guru- guru di sekolah, atau saat kuliah dari dosen- dosen di perguruan tinggi. Namun, itu hanyalah pendidikan formal saja.
Pendidikan informal akan didapatkan saat berada di luar lingkungan itu, yaitu saat kita memasuki dinamika hidup dan kehidupan, dan menurut saya pendidik yang paling super duper canggih dan tak tergantikan sepanjang masa diantara para pendidik yang memiliki sederetan gelar akademik adalah proses kehidupan itu sendiri. Setiap manusia pasti mengalami sesuatu dan lain hal dalam perjalanan hidupnya. Dari berbagai macam kejadian dan pengalaman hidup itu, pastilah pula ditemukan adanya trial and error. Nah, sudah selayaknya manusia ( yang tentunya sudah mendapatkan bekal pendidikan sebelumnya) dapat berpikir dan mengambil pelajaran atas setiap error yang terjadi selama proses trial itu agar dikemudian hari error yang terjadi dapat dihindari.
Pendidikan juga menurut saya tidak selalu bersifat positif, tetapi bisa jadi bersifat negatif. Namun itu semua tergantung manusia- manusia yang memberi dan menerimanya, juga cara penyampaiannya. Pendidikan yang negatif misalnya seperti orang tua yang sering bertengkar di depan anaknya, atau seorang ayah yang sering memukuli isteri dan anak- anaknya. Secara tidak langsung, seorang anak yang menyaksikannya akan berpikiran bahwa ternyata bertengkar di depan orang lain bahkan di hadapan anak- anak adalah hal yang biasa saja dan wajar dilakukan, atau sebagai kepala keluarga ternyata memukuli isteri dan anak adalah hal yang sah- sah saja dilakukan. Sehingga kemungkinan besar hal- hal seperti itu akan tertanam dalam dirinya dan dia akan mengingatnya sampai dewasa bahkan mungkin akan melakukan hal yang sama saat sudah berumah tangga.
Pendidikan juga tidak mengenal yang namanya faktor usia; tua–muda, anak-anak –dewasa, atau istilah belum cukup umur –kadaluarsa. Begitu juga dengan sistem gender; laki-laki –perempuan, dan mungkin sistem kasta antara si kaya dan si miskin, si anak komplek dengan si anak kampung. Semua orang ( berapapun usianya, apapun status sosialnya, dan apapun jenis kelaminnya) berhak mendapatkan pendidikan, tidak ada yang bisa menghalang-halangi dan membatasinya. Tujuan dari pendidikan ini sendiri adalah tidak sekedar untuk membimbing dan mengarahkan potensi dan bakat yang ada dalam diri setiap manusia untuk berkembang, tetapi juga untuk menanamkan dan merekomendasikan nilai- nilai ( dalam hal ini tentu nilai- nilai kebaikan yang kita harapkan).
  
● Pendidikan sebagai Kebutuhan Dasar Manusia
Pada kenyataannya memang benar bahwa pendidikan adalah salah satu kebutuhan manusia. Seperti istilah yang sering kita dengarkan, pendidikan untuk memanusiakan manusia. Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukkan bahwa ia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak dirancang untuk dapat hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu seseorang saling tergantung dengan orang lain. Proses belajar dimulai dengan orang terdekatnya. yang selanjutnya proses belajar itulah yang menjadi dasar dari pendidikan. Seiring dengan perkembangan pikiran anak manusia, semakin berkembang pulalah sikapnya terhadap keluarga dan lingkungan. Orang tua sangat berperan mengarahkan anak ini menuju kesempurnaan pada tiap tahap kehidupannya, dan juga sangat dominan meningkatkan hidup sang anak dari cara yang alamiah menjadi berbudaya.
Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu. Dan semakin tinggi kebudayaannya maka semakin tinggi pula tingkat /taraf pendidikan atau cara mendidik orang tersebut.
Mendidik berarti meningkatkan mutu jasmani dan rohani seseorang menuju kondisi yang lebih baik menuju kesempurnaan. Disamping itu mendidik juga sekaligus berarti mempertahankan kebudayaan yang telah ada. Berbicara mengenai mempertahankan kebudayaan ini menyangkut memelihara kelanjutan hidup manusia.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur  dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material  yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Masalahanya adalah bahwa  manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak terbatas, bersifat subyektif yang justru seringkali dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan rohaninya.
Produk pendidikan menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi kemudian manusia itu tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan justru menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdaya orang lain, kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egois.

● Pentingnya Pendidikan untuk Kemajuan Masyarakat
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberi sumbangan kepada semua bidang pertumbuhan individu, seperti dalam pertumbuhan jasmani dan segi struktural dan fungsional. Pendidikan yang baik juga membantunya manusia menumbuhkan kesediaan, bakat-bakat, keterampilan dan kekuatan jasmaninya, begitu juga memperoleh pengetahuan.
Diantara segi-segi pertumbuhan dan persiapan yang mungkin disumbangkan oleh pendidikan kepada individu adalah membuka pribadi/ dirinya dan mengembangkan berbagai segi potensinya kearah yang diinginkan oleh masyarakat, memperkenalkan kepadanya akan hak-hak yang diberi kepadanya oleh Tuhan sebagai individu di dalam suatu masyarakat, begitu juga kewajiban-kewajiban, tanggung jawab dan kewajiban- kewajiban sebagai akibat dari hak-hak ini.
Kita tidak meragukan bahwa nasib orang yang tidak mendapat pendidikan yang baik dalam hal pertumbuhan dan persiapan ini jauh lebih sedikit dari pada orang-orang yang menerima pendidikan yang baik. Kalau kita berkali-kali menekankan pendidikan yang baik maka itu berarti bahwa pendidikan yang dapat membawa kepada pertumbuhan individu dan masyarakat yang menyeluruh adalah pendidikan yang baik. Ukuran baik di sini berbeda dari budaya kebudayaan dari masyarakat ke masyarakat lainnya, tetapi ada ukuran-ukuran yang disepakati oleh semua. Diantaranya adalah bahwa pendidikan itu harus mempunyai tujuan-tujuan tertentu dan jelas, dan bahwa hubungan-hubungan antara tujuan, rencana, kurikulum dan program-program pengajaran dengan tujuan-tujuan, kebutuhan masyarakat, kebutuhan individu di masyarakat itu dan budaya serta nilai-nilai masyarakat jelas. Begitu juga gerakan perbaikan dan pengembangan masyarakat kearah yang lebih baik haruslah didasarkan atas pninsip-prinsip ilimiah yang telah dikaji dengan matang dan secara terus menerus.
Kita harus sadar bahwa pendidikan yang baik adalah baik tujuan-tujuannya, baik kebijaksanaannya, baik guru-gurunya dan bangunan-bangunan serta sarananya. Masyarakat yang berusaha mencapai pendidikan yang baik harus terus menerus memperbaiki segi-segi ini semua berdasar pada ajaran-ajaran, nilai-nilai agamanya, ciri-ciri budayanya yang istimewa dan kebutuhan-kebutuhan dan tuntunan-tuntunan pertumbuhan yang menyeluruh dan juga berdasarkan pada hasil-hasil penelitian ilmiah yang benar dan eksperimen-eksperimen yang wajar dan berhasil.
Keterlibatan manusia dalam pendidikan harus dapat diarahkan untuk peningkatan budi pekerti dan akhlak. Jika tidak maka belum dapat dikatakan bahwa manusia berhasil menamai dirinya sebagai manusia sejati.

Sabtu, 18 Agustus 2012

tugas MPA Jurusan Psiko UNJ '12

Resume Mahzab- Mahzab Psikologi

            Secara umum, psikologi diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa. Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Psikologi sebagai disiplin ilmu baru lahir pada akhir abad 18 Masehi. Hingga kini sekurang-kurangnya ada empat mahzab psikologi, yakni 1) Psikoanalisa, 2) Behaviorisme, 3) Kognitif dan 4) Humanisme. Empat mahzab itu menggambarkan adanya dinamika pemahaman terhadap manusia yang sifatnya trial and error.
1)Psikoanalisa
Salah satu tokoh psikoanalisia adalah Sigmund Freud (1856 – 1939). Nama asli Freud adalah Sigismund Scholomo. Aliran ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada usia lima tahun.
Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id merupakan sumber dari insting kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah laku. Id berorientasi pada prinsip kesenangan.Ego sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superego merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat mengenai baik-buruk atau benar-salah.Superego berfungsi untuk merintangi dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong ego untuk menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar kesempurnaan. Pandangan psikoanalisia memberi implikasi yang sangat luas terhadap konseling dan psikoterapi, khususnya dalam aspek tujuan yang hendak dicapai serta prosedur yang dapat dikembangkan.

2) Behaviorisme
Aliran ini sering dikatkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 – 1950-an.
Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Tidak menjadi persoalan apakah manusia itu baik atau tidak,ia sangat plastis, bisa dibentuk menjadi apa dan siapa sesuai dengan lingkungan yang dialami atau yang dipersiapkan untuknya. Yang menjadi prinsip umum dalam aliran Behaviorisme adalah tingkah laku sebagai objek, refleks atas semua bentuk tingkah laku, dan pembentukan kebiasaan dalam individu.

3) Kognitif
            Aliran kognitif mulai muncul pada tahun 60-an sebagai gejala ketidakpuasan terhadap konsep manusia menurut behaviourisme. Gerakan ini tidak lagi memandang manusia sebagai sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif terhadap lingkungan, melainkan sebagai makhluk yang selalu berfikir (Homo Sapiens).
Tokoh-tokohnya antara lain: Gestalt, Meinong, Ehrenfels, Kohler, Max Wetheimer, dan Koffka. Menurut mereka manusia tidak memberikan respons secara otomatis kepada stimulus yang dihadapkan kepadanya karena manusia adalah makhluk aktif yang dapat menafsirkan lingkungan,bahkan merubahnya. Manusia berusaha memahami  lingkungan yang dihadapi dan merespond dengan pikiran yang dimiliki.

4) Humanisme
            Aliran Humanisme merupakan kontribusi besar dari psikolog-psikolog terkenal seperti Carl Rogers, Goldon Allport dan Abraham Maslow. Humanisme muncul sebagai gerakan besar psikologi pada tahun 1950 – 1960-an.
Aliran ini mengkritisi aliran Behaviorisme yang menekankan pada stimulasi tingkah laku yang teramati. Menurut aliran Humanisme, pandangan Behaviorisme terlalu menyederhankan dan melalaikan manusia dari pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks, nilai-nilai cinta kasih atau kepercayaan, juga potensi dan aktualisasi diri. Humanisme sangat mementingkan self (diri) manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman-pengalaman subjektif individual.
Aliran Humanisme juga tidak menyetujui pandangan Psikoanalisis yang cenderung pesimistik dan pandangan Behaviorisme yang cenderung memandang manusia sebagai netral (tidak baik dan tidak jahat). Humanisme memandang manusia pada hakikatnya adalah baik. Perbuatan-perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik tersebut.
Aliran Humanisme memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Psikologi Humanistik memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia adalah makhluk yang unik, memiliki cinta, krestifitas, nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu teori Humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens, yakni manusia yang mengerti makna kehidupan.

Jumat, 30 Maret 2012


Untukmu yang Tak Pernah Letih Menyintaiku

Tak ada yang begitu tulus mencintaiku seperti dirimu
Tak ada yang sanggup mengerti ku sepertimu
Tak akan pernah ada yang mampu penuhi semua mauku
Tak akan pernah ku temukan cinta yang seperti cintamu
Berulang kali telah ku sakiti hatimu
Beribu kali telah ku buat menetes air matamu
Tapi pintu maaf mu selalu terbuka lebar untukku
Walau sering ku membuatmu terluka
Kau selalu berusaha membuatku bahagia

Ketahuilah,
Tak ada niatku ‘tuk menyakiti mu
Tak pernah terfikir olehku ’tuk melukai hatimu
Tak pernah mau ku melihat tetes air matamu
Semua terjadi diluar kendaliku
Diluar kesadaranku dan bukan kehendakku
Semua hanya karena hasutan egoku
Walau sulit terucap dari lisanku
Ketahuilah,
Aku sangat mencintaimu
Dan selamanya akan tetap begitu

Selasa, 20 Juli 2010

cerpen

Bayang Abadi
Oleh: Jeli Farida
GWEN terbangun. Lagi- lagi mimpi buruk itu menghampirinya. Kembali ia teringat pada kejadian beberapa tahun silam. Bayangan masa lalu itu seakan di-replay secara otomatis diotaknya. Tanpa sadar ia menangis histeris dan berteriak-teriak. Teriakannya memuncak bersamaan dengan alarmnya yang berdering nyaring.
Sepuluh menit kemudian Gwen kembali kealam sadarnya. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Setelah berhasil menguasai dirinya, Gwen mematikan alarmnya. Lalu menuju kamar mandi dan kemudian bersiap-siap ke sekolah.

Gwen Millany adalah seorang gadis kecil berusia 9 tahun. Ia tinggal bersama kakak laki-lakinya, Mozzart Gallaghan, di rumah peninggalan orangtua mereka yang meninggal dunia karena pembooman sebuah restoran didaerah tempat tinggal mereka – saat ledakan itu terjadi, mobil yang dikemudikan papanya baru saja memasuki area parkir disebelah restoran.
Setelah peristiwa itu mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah itu. Sementara itu untuk biaya hidup sehari- hari dan kebutuhan sekolah sudah diambil alih secara sepihak oleh Paman Alfred, adik mamanya, tanpa perlu meminta persertujuan mereka berdua. Mozzart berjanji pada dirinya sendiri dan mendiang orang tuanya untuk selalu menjaga dan melindungi adik semata wayangnya.

Entah sudah berapa kali Gwen menanyakan jam pada satpam saat menunggu dijemput oleh kakaknya. Saat Mozzart datang, dengan senyum lebar Gwen menyambut kedatangan kakak kebanggannya yang langsung menggandeng tangan mungilnya untuk membawanya pulang.Gwen sama sekali lupa jika hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ia baru ingat setelah kakaknya membawanya kesebuah rumah makan dan memberinya sebuah kado berisi jam tangan digital berwarna kuning, warna favorit Gwen. Asyik, jam tangan warna kuning di ulang tahun yang ke sembilan, hihihi. Gwen segera melingkarkan jam itu ditangannya.
Dalam perjalanan pulang Gwen meminta Mozzart untuk membelikan balon yang dijual diseberang jalan. Setelah membelikan balon untuk Gwen, Mozzart kembali menemui Gwen. Ketika menyeberang jalan, tiba- tiba sepeda motor yang melaju kencang dari sebelah kanan menghantam tubuh Mozzart. Gwen yang menyaksikan kejadian itu langsung menjerit- jerit dan menangis histeris. Ia segera berlari kearah Mozzart yang tergeletak bersimbah darah dan memeluknya. Tak lama kemudian Mozzart meninggal dalam pangkuan Gwen. Jam tangan warna kuning itu menjadi kado terakhir Mozzart untuk adik yang sangat dicintainya. Setelah kematian Mozzart, Gwen menjual rumahnya dan tinggal bersama Paman Alfred.

Gwen seakan- akan mendengar dinding dikamarnya bersuara. Suara itu seolah- olah menuduh Gwen yang menjadi penyebab kecelakaan beberapa tahun lalu. Ia memejamkan mata dan menutup telinganya rapat- rapat. Kembali ia mendengar suara yang memanggilnya. Tetapi bukan dari tembok- tembok kamarnya, suara itu sangat akrab ditelinganya. Setelah memberanikan diri untuk membuka mata, ia melihat Mozzart yang berjalan mendekatinya. Kakak akan selalu jagain kamu, Gwen. Setelah mendengar suara itu, Gwen melihat Mozzart perlahan- lahan semakin memudar lalu menghilang.

Turun dari angkot yang mengantarnya ke kompleks rumah Paman Alfred, Gwen melewati dua orang preman. Gwen merasa seperti ada yang mengikuti, tetapi setelah menoleh ke belakang kedua preman itu tidak lagi terlihat. Fuuuhhh… syukurlah, ucap Gwen dalam hati. Tetapi tiba- tiba seseorang merampas tas Gwen dari belakang. Gwen segera berbalik mengejar pencuri tasnya yang ternyata adalah salah satu dari preman yang dilewatinya tadi dan berteriak maling. Pencuri itu sudah berbelok ke kiri sehingga Gwen tidak bisa lagi melihat kemana perginya. Saat Gwen berbelok kekiri pencuri tersebut sedang berhadapan dengan seorang pemuda berpakaian hitam- hitam. Pemuda itu lalu menghajar pencuri itu dan mengambil tas Gwen. Pemuda itu memberikan tas itu kepada Gwen.
Gwen mengingat- ingat kembali kejadian serupa yang pernah dialaminya. Mulai dari kejadian di bus waktu seorang mahasiswa mencoba menggodanya hingga Gwen merasa risih. Lalu seseorang yang berdiri dibelakangnya menggertak cowok itu hingga membuatnya terdiam dan segera menjauh dari tempat Gwen berdiri. Sang penolong berbalik dan turun dari bus sehingga Gwen tidak bisa melihat seperti apa wajah orang yang telah menolongnya itu. Lalu kejadian saat ia dan teman- temannya sedang berlibur, kemudian saat di mall bersama Ammy, dan kejadian- kejadian berikutnya yang ia tak tahu lagi bagaimana kronologisnya. Gwen selalu ditolong oleh seorang pemuda tak dikenal. Gwen pun sempat berpikiran konyol, mungkinkah Sang penolong itu adalah malaikat yang ditugaskan untuk menggantikan tugas Mozzart? Atau dia memang Mozzart? Gwen mengambil jam tangan warna kuning yang disimpannya dalam kotak kecil didalam lemarinya.Sadar, Gwen! Nggak mungkin dia Mozzart. Mana mungkin dia bisa hidup lagi? Gwen lalu menemui Ammy di kamarnya dan menceritakan kejadian itu pada Ammy.
“ What? Jangan gila, deh. Kalau sang penolong itu Mozzart, terus yang kamu antar ke Pemakaman itu siapa? Tukang balon? Ada- ada aja, deh.”
“ Tapi aku ngerasa ada yang ngikutin aku kemana- mana. Aku nggak tau siapa, tapi aku yakin dia itu Mozzart.”
“ Kebetulan aja kali. Dasar kamu aja yang nanggepinnya berlebihan.”

Lagi dan lagi. Gwen terbangun karena mimpi buruk itu kembali menghampirinya dalam satu tahun terakhir. Hanya saja sekarang ia merasa tak perlu lagi menangis histeris dan berteriak- teriak, karena ia yakin bahwa Mozzart masih ada disisinya untuk melindunginya. Tahun pertama Gwen pindah ke rumah ini, Paman Alfred, Bibi Prita, dan Ammy dihebohkan oleh teriakan tengah malam Gwen yang hampir setiap malam. Dan Gwen merasa sangat menyesal telah merepotkan mereka dengan teriakan- teriakan tengah malamnya itu. Gwen mengambil kembali jam tangannya. Gwen tahu, kakak selalu jagain Gwen dari sana dan Gwen akan buktikan kalau itu benar, katanya dalam hati.

Di perjalanan pulang dari sekolah, Gwen seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia memilih melewati jalan yang lebih lebar dan ramai. Sebelum menyeberangi jalan, Gwen berhenti sejenak. Aku akan tahu yang sebenarnya, batinnya. Ia menyeberang dan tiba- tiba berhenti ditengah jalan dan sebuah travel melaju kencang ke arahnya. Ia tahu bahwa akan ada seseorang yang akan menyelamatkannya. Kakak akan datang buat Gwen, kakak pasti nolongin Gwen. Gwen tahu, kakak pasti datang. Iya kan, kak?
“ KAKAAAAK…!”
Lalu Gwen terpelanting dan mendarat sejauh ± 5m dari tempatnya semula. Darah segar mengucur dari seluruh tubuhnya. Gwen tersenyum tipis, kakak tidak datang, ternyata selama ini Gwen hanya dibayang- bayangi oleh pikiran tentang kakak karena Gwen kangen kakak. Gwen kangen, kak. Lalu ia melihat kakaknya tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Gwen menyambut uluran tangan itu dan kemudian menutup mata untuk selama- lamanya.
