Sabtu, 13 Juli 2013

(bukan) Surat Cinta (tapi ini) untuk ( dan tentang) Kastil ♥

( harusnya) Tertanggal 12 Juli 2013

Masih adakah dalam ingatanmu?
Masih teringat dalam waktu itu ; aku bernyanyi dengan semangatmu, kaupun berlari dengan semangatku...
Saat bersama kisah lugu itu, suka-duka-lara hari yang biru
Sekilas cerita terpatri begitu saja; kisah aku-kau-dan kita sahabat s’lamanya...
Ku ‘kan bercerita pada dunia...
Sembilan, kita pelangi yang jaya
Bersama raih bahagia nyata
Sembilan, kita adalah keluarga
Semoga aku, kau, dan kita meraih cita kita...
  
itu lirik lagu brooh. Yang bikin temen gue namanya Yorits Mexdianto tralala-trilili. Dia men-judul-inya dengan Aku, Kau, dan Kita ( Sembilan). Lagu ini sekarang menjadi lagu kebangsaan KASTIL, 9th Generation of KUSMANSA Pemali. Kece banget kan kita punya lagu sendiri :p
Oke guys, adakah diantara kalian yang bertanya- tanya tentang tulisan di pojok kanan atas? Misalnya “kok pake (harusnya) sih?” gitu, ada ga? Yahhh ga adaaa :”(
Perlu lo tau guys, gue nulis kaya begitu bukan buat pajangan sama aksesoris doang, tapi karena tanggal itu tuh berarti banget buat gue. Kenapa? Simak cerita singkat gue ini ya, bentaaaaar aja oke ;)
5 tahun silam, 12 Juli 2008, menjadi tanggal penting buat sejarah kehidupan gue. Karena pada hari itu, gue resmi ‘diusir’ dari rumah gue dengan dianter emak gue sendiri, hiks sedih banget kaaan? Sedih dong pliiiiis... Apalagi kan saat itu gue masih baru banget tamat SMP, masih unyu dan butuh kasih sayang orang tua (plakkkk)
Emak gue waktu itu nganterin gue ke sebuah desa yang namanya aneh banget, belum pernah gue denger, dan kalo salah sebut artinya berubah jadi ga boleh disebut (Bingung? Bagus! Tandanya gue berhasil wahahahah). Yak, nama desa itu adalah Pemali, inget ya Pemali, PE-MA-LI, dengan ‘E’ sbg huruf kedua. Lalu disana takdir mempertemukan gue dengan orang- orang seumuran gue yang masih polos-tak bernoda (mungkin), yang bercita- cita jadi orang- orang hebat dan berpengaruh di dunia (gilak banget kan mereka? Mereka siapa coba, berani- beraninya punya cita- cita kaya gitu?!). Tapi itu dia poin pentingnya guys, itu! Karena itu mereka jadi istimewa (chibichibiii...hakhakhaaak).
Gue bersama orang- orang aneh itu kemudian di jebloskan ke dalam sebuah ‘penjara’. Iya, penjara. Penjara guys, PENJARA! Tapi ga pake jeruji besi sihhh, cuma pager keliling aja, di tambah serentetan peraturan, koridor rumah sakit yang ternyata adalah tempat untuk kami berbaris buat dapetin makanan, sama tempet makannya yang dari stainless terus kebagi jadi beberapa bagian ( biasanya barang kaya gini adanya di rumah sakit, dan di penjara juga, beneran deh). Kebayang ga lo? Ngga ya? Sama, gue juga awalnya ga pernah ngebayangin ada tempat yang kaya gitu. Tapi yaaa gue udah ngalamin sendiri, 3 taun gue bertahan hidup di sana guys, 3 taun! Dan sekarang gue baik2 aja tuuuh, malah pengen balik lagi rasanya (rasanya doang sih yaa hahaha :p)
Terus biar agak kerenan dikit dan biar ga sedih- sedih amat dalam menjalani kehidupan di sana, kami pun menyebut ‘penjara’ itu dengan sebutan asrama. Nah, sekarang agak enak kan ngedengernya? :D
Dan di tempat yang ku sebut asrama ini lah, cerita kehidupan baru ku dimulai~
Gue, Jeli Farida, asal SMP 1 Koba, namanya tertera di depan pintu sebuah ruangan bernomor 8 –the lucky number – bersama dengan  nama 3 orang lainnya. Pas gue masuk ke dalam ruangan itu bersama emak gue, disana sudah ada seorang cewek berjilbab –kecil –tidak tinggi –tidak putih –tidak cantik –dan tidak tipe gue banget (lahh?). Dia lagi ngebenerin singgasananya, nutupin pake kain panjang berwarna biru. Gue, sebagai penghuni baru yang tau diri, langsung sok akrab dan ngajakin kenalan. Dia rada sok- sok jaim gitu deeeh, namanya Disa Natasia Wahyuni Putri ( panjang banget kan namanya, ga kayak orangnya *ups). Ternyata dia penghuni baru juga sama kayak gue (yaiyalaaah) katanya dia dari MTs Bahrul Ulum. Terus gue memutuskan untuk memilih singgasana gue, pilihan gue jatuh pada singgasana di sebelah Disa, tapi dia bilang itu udah ada penghuninya. Yaahh dengan terpaksa gue memilih singgasana di atasnya dan membuatnya layak untuk gue huni. Namun setelah men-check baby check calon singgasana gue itu, ternyata dia ga bagus2 amat dan gue ngerasa ga akan nyaman di sana. Lalu gue move on ke singgasana di atas Disa, dan  setelah mengamati-mengetahui-dan mempertimbangkan akhirnya gue memutuskan untuk memilih singgasana tersebut. Ehh ternyata, bagian terempuk dari singgasana itu rada ga enak, masih enakan punya singgasana sebelah. Jadi gue putuskan untuk memboyong punya gue dan membawanya ke sana, lalu tukeran hahahaha :p
Tak lama kemudian masuklah seorang cewe yang juga berjilbab –putih –lebih tinggi dari Disa, yang ternyata penghuni singgasana sebelah Disa. Gue sebel banget tuh sama dia gegara gue keduluan buat nempatin singgasana itu. Eh, kata Disa, justru si cewe itu yang duluan jadi penghuni tempat itu, pffft. Gue berusaha menerima kenyataan ( lebay!) dan nyamperin tuh cewe buat kenalan ( lagi, karena gue itu tau diri, guys). Namanya Sitti Aisyah, SMP 3 Tanjung Pandan. Ebuseeeett, dari pulau sebelah tjoooy! Gue pun membatalkan kesebelan gue yang tadi gegara gue interested sama dia, secara gue belum pernah punya temen dari daerah itu. Apalagi pas dengerin dia ngomong sama temennya yang juga satu sekolah, sahabatan dari kecil, dan ternyata penghuni ruangan sebelah ( ruangan bernomor pintu 7). Temennya itu perawakannya mirip- mirip lah kaya Sitti, berjilbab –putih –tidak tinggi tapi juga tidak kecil, namanya Restianti Mutiara. Oke fine, tinggal satu penghuni lagi yang belom hadir.
Pas lagi asik beres- beres barang bawaan, ada suara aneh, kayak di stasiun, terminal, atau apalah tapi bukan di bandara, bandara suaranya bagusan dikit tjoooy :D
Suaranya itu kaya gini; pertama- tama bunyi “ting...tonggg...ting...tongggg...” terus ada bunyi kresek2 gitu, terus ada suara orang, ngomong apaan gue gatau deh kaga kedengeran jelas, apalagi situasi saat itu crowded banget sama penghuni2 yang lain. Terus ga lama kemudian orang- orang pada ngajakin keluar, tau deh mau ngapain, masa bodo barang- barang gue belon beres. Lagi, ada yang ngajakin, tapi kali ini ajakannya jelas makanya gue ninggalin kerjaan gue dan ikut dia, gue lupa dia bilang apa, tapi kurang lebih seperti ini “ ehm, cewek... keluar yo, kite di suruh makan kate e.”
makan? Siapa yang ga mau coba, secara gue laper banget. Terus gue keluar bareng Disa & Sitti, dan orang- orang udah rame banget di korido rumah sakit itu dan berbaris panjaaaaaang kebelakang. Gue bingung dan langsung ambil posisi ke barisan paling belakang. Eh terus ada yang nyiapin gitu di depan, kayak ketua kelas, trus ada suara orang ngitung gitu, ternyata barisan sebelah lagi berhitung ke belakang ( fyi, mereka itu senior). Terus barisan gue juga ngitung, abis itu masuk ke ruangan yang mejanya panjaaaaaaang dan ada kursi berhadap- hadapan. Ya, itu ruang makan namanya, guys. Dan waktu itu kita yang cewe- cewe duduknya menghadap arah pintu + senior, yang cowo- cowo menghadap kita cewe- cewe cantik ini. Di atas meja sudah ada makanan berupa nasi, sayur, dan ikan goreng, juga sepasang sendok-garpu. Makanan itu letaknya di bulatan stainless seperti yang gue sebut sebelumnya, ompreng! Oomaigaaat, di sini ga ada piring normal apa? ( pikir gue waktu itu) dan lagi gue harus makan berhadapan sama cowo yang ga gue kenal sama sekali ( gue lupa waktu itu siapa di depan gue).
Setelah semuanya duduk rapi, si ketua kelas tadi itu berdiri di depan, berdua sama temennya. Dia teriak “ Seluruh siswa, duduk siap, grakkk!” tiba2 ada bunyi gede banget yang bikin gue kaget dan cengo’. Ternyata itu bunyi sepatu- sepatu senior yang dihentakkan kenceng banget ke lantai, trus mereka juga langsung duduk tegak gitu. Gue masih tetep cengo’. Abis itu si ketua kelas melapor sama temennya, mereka hadap2an di depan situ, gini katanya “ Lapor! Makan siang dengan jumlah xxx orang siap!”, terus temennya itu jawab “ Laksanakan!”, ketua kelas itu ngomong lagi “ Siap, laksanakan!”. Abis itu dia ngehadap kita lagi dan ngomong “ Berdoa, mulai!”, beberapa menit kemudian “ Berdoa selesai. Istirahat di tempat, grakkk!”, bunyi sepatu lagi, halaaah. Ga sampe disitu guys, abis bunyi sepatu itu mereka teriak kenceng banget “ MAKAN SIAANGGG!!!”. Dalem hati gue, yaampuuun gini banget siih? Kaya ga pernah makan aja-_-
Sebagai orang yang sama- sama penghuni baru, apalagi lokasinya adalah ruang makan dan sedang makan sama- sama, pastinya kita rame banget, ngobrol kiri- kanan, kenalan, teriak sana- sini, ketawa- ketiwi, ribut banget! Terus ada orang berjaket hitam berdiri di tengah situ, gue ga tau dia siapa, yang jelas dia ngomel dan marah2 gegara kita ribut. Terus senior yang mejanya depan meja kita nyuruh kita diem. Belakangan baru gue tau, kalo si jaket hitam itu namanya Subandi, a.k.a Kak Bandi, pengawas. (Ampun, Kak ^^v)
Belom selesai gue makan, eh si ketua kelas sama temennya yang tadi maju lagi ke depan, “ Perhatian! Seluruh siswa, duduk siap, grakkk!”, bunyi sepatu lagi, “ Lapor! Makan siang selesai, laporan selesai!, “ Bubarkan!”, “Siap, bubarkan!”. “ Seluruh siswa, istirahat di tempat, grakkk!”, bunyi sepatu lagi, dan senior- senior itu berhamburan. Lalu kata seorang senior “ Kelas satu, tetep di tempat, sebentar. Yang lom sude makan e, lanjutin lah duluk, ade pengarahan sebentar dari Kak Bandi, dak ape dak, makan lah.”
Lalu, si jaket hitam yang tadi itu hadir di antara kami. Dia ngomong blablablaaa gue ga inget lagi, dan ga kedengeran juga waktu itu. Yang gue tau adalah sepasang sendok-garpu yang kami pake barusan itu boleh kami bawa dan setiap mau makan sendok-garpu itu harus selalu dibawa, lengkap- ga boleh satu doang, dan itu yang akan kami pake buat makan selama kami di sana. Yaampuuuun, dia nyuruh gue miara sendok- garpu, apalagi waktu itu kami ga punya seperangkat alat cuci piring, huft.
Setelah balik lagi ke ruangan dengan lucky number itu, gue ngelanjutin kerjaan gue lalu ngobrol2 sama penghuni satu ruangan, Disa & Sitti, plus Resti as a penyusup yang nempel mulu sama Sitti. Kita waktu itu ngomongin si penghuni terakhir yang tak kunjung datang,
Gue ( G)                : siape agik ge yang lom dateng ni? Ngape ok die lom dateng?
Disa (D) : ntah ge, tapi ade name e di pintu tu, cube k tingok
Setelah melihat nama2 di pintu sambil menghapal nama Sitti & Disa
G             : Kurnia Dwi A. name e. Hmm, semogalah die dak dateng ok, kan lumayan
   tempet die tu kek kite pake narok barang. Sude tu pacak kite men nek pindah-
   pindah tiduk e jadi dak bosen.
S              : Iye, benerlah kate kao tuh. Lumayan tempetnye tu bisak kite manfaatkan untuk
 barang. Daripade kite tarok di lantai situk kan, apelagi di atas lemari itu,
 manelah banyak bantal pulak, ndak tau neh bantal siape- siape jak. Ngape dak
 di buang ajak lah ye? *Sitti dengan bahasa belitungnya yang masih sangat kental
 bin original*
Jengjengjeeeenggg, beberapa jam kemudian ada rombongan bapak-2 orang ibu- seorang cewe- dan seorang anak laki- laki kecil gendut. Mereka memasuki ruangan kami dan permisi sambil senyam- senyum dan ngobrol dengan emak gue yang kebetulan belom balik. Ternyata, si penghuni terakhir itu datang juga, lalu kami bertiga plus Resti dengan kompaknya saling melihat, kecewa. Kami pun memasang senyum palsu dengan senyam- senyum pada orang tuanya dan memandang sinis padanya yang menggagalkan rencana sekaligus persamaan misi perdana kami. Dia cuma senyam- senyum sendiri, bukannya memperkenalkan diri eh malah emaknya yang ngenalin dia ke kami, makin bikin gue geram. Kata gue dalem hati “ Weeeew, sok imut ge die ni. Lah menggagalkan rencana, senyam-senyum bai dari tadi, dak ngomong apelah, pelit ge kek suare, dak tau diri abenlah. Cube tau diri kayak ku ni, langsung pedekate biar tenang idup disini”. Gue pun makin kesal setelah melihat kalo ternyata dia ini mirip musuh gue ( saingan yang belum terkalahkan tepatnya, bahkan sampai sekarang. Parahnya, kami kuliah di jurusan yang sama, beda kampus. Kampusnya dia sekarang itu adalah kampus impian gue, ya sebatas impian, hiks makin kalah deh gue). Terus pas gue liat ranselnya, ada bordiran “ Lomba Pidato Bahasa Inggris blaablabla” kalo ga salah. Seketika itu juga gue langsung ngeliat dia tajem banget, dari rambut sampe kaki, lalu seakan- akan nge-stampel jidatnya dengan tulisan “ SAINGAN BARU!”. Pokoknya gue kesel banget lah waktu itu, kayanya hidup gue kok ga jauh- jauh dari orang kaya gitu ya :”””(
Beberapa jam kemudian, orang2 yang nganterin dia tadi gantian pamit, tertama emaknya. Emaknya nitipin dia ke kami dan ngebeberin ( hampir) semua kekurangannya, dan di jawab dengan senang hati sama emak gue “ Same lah, Bu. Anak ku ni ge macem tu lah, pe same bai lah orang ni ku tingok rate- rate. Emang tenga masa- masa e macem tu kalok e. Biarlah, sekarang kan orang ni lah idup sendiri, pacak lah kelak orang ni same- same belajar idup mandiri, dak usah khawatir dak.” Gue langsung manyun waktu emak gue ngelirik gue sambil senyum2. Setelah emak gue juga pamit pulang, barulah kami ngobrol dengan si penghuni terakhir itu dan membocorkan rencana kami tadi lalu ngakak bareng hahaha tapi dia masih aja senyam- senyum -____-
Itulah awal cerita pertemuan kami yang kemudian menamai kamar kami yang lucky number itu ( dan ternyata emang lucky banget, krn hanya kamar kami yang punya cermin gede, masih mulus, ga pake pecah apalagi repis pinggirannya).
It have been five years ago, guys. Lima tahun! Itu bukan waktu yang singkat, hanya saja berlalu begitu cepat ( kayak balesan mention ke temen gue di twitter dan dia bilang gue tiba2 berubah jadi pujangga hahaha. Andai dia tau apa penyebab dari ke-pujanggaan mendadak gue ini)
Lalu sekarang, (anggap masih tanggal) 12 Juli 2013, kami sudah melarikan diri dari tempat itu, guys.
Disa Natasia Wahyuni Putri, putri sulungnya Pak Baderun dan Ibu Jarma *kalo ga salah* , yang punya banyak sekali nama panggilan semenjak jadi penghuni “penjara” itu: Disa eNWePe, Disa Natasia WePe ( Wanita Perkasa), Dicoet, Dicot, Dicut, Icut markicut-tekicut-kicut. Sekarang dia sedang menempuh pendidikannya di Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ( FMIPA), Jurusan Pendidikan Biologi, memasuki semester 5, tahun ke- 3
Kurnia Dwi Aprilia, putri Pak Subekti ( sama banget namanya dengan nama seorang senior kami ) dan Ibu Elis ( kali ini namanya sama dengan teman seangkatan kami hahaha), sama nasibnya dengan Disa, punya banyak nama. Jika dilihat sekilas, bila disingkat namanya itu menjadi sebuah kata, yaitu KUDA! Ya, dia sempat ngetop dengan panggilan itu. Nama lainnya, yaitu Nia, Niut, Ninyut, Ninyoet, Nyotnyooot,Niyul, Ninyul ( seinget gue sih cuma itu. Ah iya, gue beruntung banget ga jadi menempati singgasana orang ini, karena ada kejadian lucu bin miris di sana. Suatu hari sepulang sekolah, tanpa curiga kami langsung masuk kamar seperti biasa dan melipir ke singgasana masing- masing. Agak heran dengan bantal- bantal dari atas lemari yang berserakan di lantai, namun mungkin karena lelah jadi tidak ambil pusing. Positive thingking, “ Hmm, mungkin karena emang bahannya licin, bantal2 itu jadi jatoh waktu kami lagi di sekolah”. Sampai akhirnya seorang tetangga sebelah, Detya Pertiwi asal SMP 1 Pangkal Pinang (nama panggilan Tya, Det, DePe, Dedet, Dodot *uhuuuk*) masuk kamar kami, dan manjat diantara singgasana Ninyul dan Sittonk sambil goyang- goyang kaki dan ngaca. Terus dia ngeliat ke arah tempat tidur Ninyul dan membisu-mengamati-melihat lebih dekat- dan teriak “ Waaaa cobe lieeet, di tempat tiduk Ninyut ade telok ayaaaam. Astriiiiii kesini cepetlaaah liet niiiii...”
Gue yang lagi nyantai pun langsung beranjak dan ngeliat ke arah mata Dedet memandang, dan memang iya, ada sesuatu di sana. Lalu, Detya tak sengaja menoleh ke tumpukan bantal di atas lemari, dan teriak lagi “ Waaaaa ade ayam di atas lemari ikaaaak hahahahha”. Si ayam yang merasa namanya di sebut pun langsung tau diri dan keluar dari tepat persembunyiannya, terbang ke sana- ke mari, bikin heboh. Entah siapa yang kemudian menjadi pahlawan mengeluarkan ayam itu dari kamar gue, gue langsung ngecek jejak- jejak ayam itu di singgasana gue. Bersih, fiuuuhhh untunglaaaaah, lalu ngakak sejadi- jadinya saat si pemilik tempat perteluran itu datang. Dia memandangi bantalnya dengan ekspresi yang sangat menyedihkan namun layak untuk ditertawakan :D
Setelah kejadian itu, kami langsung memasang tulisan di jendela kamar agar ibu yang membersihkan asrama tidak membuka jendela, takut ayam itu numpang bertelur lagi. Dan bantal- bantal itu pun segera kami bereskan ke gudang di GSG atas persetujuan Kak Bandi yang senyum kecut mendengar laporan kami tentang si ayam itu :3
Sekarang, si Ninyut ini sedang mengenyam pendidikan strata 1 di Universitas Padjajaran, Fakultas Pertanian *kalo ga salah*, Jurusan Agroteknologi, memasuki semester 5, tahun ke- 3.
Next, Sitti Aisyah, alias TuTi ( Tukang Tidur), Tembem, Pipi Bakpau, Situt, Sittonk, putri bungsu Pak Musa ( apa Pak Ishak ya? Maap ti, lupa._.), melanjutkan studinya di Universitas Padahal IKIP, Bandung. Ehm, maaf, maksud saya Universitas Penidikan Indonesia, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ( FPMIPA), Jurusan Pendidikan Fisika, memasuki semester 5, tahun ke- 3.
Last but not least, si cantik- membahana- badai- halilintar- petir- menggelegar – dan paling seksi, Jeli Farida, alias Jefa, Jefu, Jelly Fish, Aurelia Aurita (nama latin u/ ubur2 alias jelly fish), Jeloy, Jejong, Jejod, Jhe, Jeje. Gue sendiri, setelah melalui lika- liku hidup yang panjang, akhirnya melanjutkan pendidikan gue ke Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan ( FIP), Jurusan Psikologi, memasuki semester 3, tahun ke- 2.
Panjang ya ceritanya, padahal ini baru hari pertama masuk asrama loooh, belum kesebut KASTIL unyu- unyu yang lain. Iya memang, mereka ini terlalu banyak mengukir cerita di hidup gue :’)
Nanti ya, TIL, gue lanjutin di post selanjutnya. Gue usahain tanggal 20 Agustus nanti ;)
Eh, iya. Ga ada yang nanya nih KASTIL itu apa? Hahahhaa
Nanti aja yaaa, pada saatnya wkwkwk :p
Sekarang gue mau istirahat dulu cyn, abisan disini ujan, jadi dingin2 gimana gituu deh enak banget buat melipir ke singgasana baru gue ngahahah. Lagi pula gue harus bangun pagi banget besok, memburu si burung terbang yang bakal membawa gue ke rumah emak gue ( ga nyampe depan rumah juga siih sebenernya) xD
Okay, keep staring my posts, dear fans :p

Rabu, 10 Juli 2013

i won't let this awesome chance fly away~ #part1

Oke, sekarang ogut mau share about Paskah Civitas Akademika UNJ 2013 yang dilaksanakan hari Sabtu, tanggal 27 April lalu. Telat banget ya gue baru share sekarang, udah keburu basi wkwkwk. Tapi dari pada ngga sama sekali, ya mendingan telat, ye kaaan?
Simak baik- baik, guys...
Don’t miss it!!!

Kamis, 09 Mei 2013

♥Hormon Cinta♥

nah, yang ini hormon cinta nih, guys. jumlahnya lebih banyak dari hormon stress. it's means, harusnya kita lebih sering jatuh cinta ketimbang stress. setuja? ;)

Hormon Stress


Tugas Psi.Faal, disuruh nyari yang beginian. Thanks to Mr. Delvi, kalo ga ditugasin gini gua ga bakal nyari tau dan ga bakal tau pastinya :D

Minggu, 28 April 2013

i'll do it better :)



Sadarkah, bahwa tanpa sengaja kita pernah bahkan sering melakukan sesuatu yang ternyata tidak berkenan bagi orang lain?
Harusnya IYA!


Selasa, 23 April 2013
Aku kira, aku adalah orang yang paling sensitif di jagat raya ini ( test pack juga kalah kali sensitifnya), orang yang seringkali menjadi sangat terharu atau bahkan sangat tersinggung oleh hal yang sangat-sangat-sangat-sangat kecil dan dianggap sepele oleh orang lain. Namun, ternyata aku malah mengabaikan hal yang agak-sedikit-lebih besar. Hingga pagi ini teguran itu datang sampai aku menitikkan tetes-demi-tetes, karena ternyata semua yang terjadi satu minggu belakangan ini berawal dari kekhilafanku, ke-tidaksensitif-anku.
Ya, aku yang salah…
Namun izinkan aku menjelaskannya disini, bukan bermaksud melakukan pembenaran atas apa yang telah terjadi.
1.   Aku tidak memperkenalkan mereka satu-per-satu secara ekslusif karena ku kira jika kau memang peduli, jika kau memang tertarik pada kehidupanku, kau akan bertanya langsung pada mereka, tanpa perantara aku. Karena apa? Karena bagiku perkenalan yang seperti itu terasa lebih hangat dan lebih akrab, dan orang tuaku selalu melakukan yang seperti itu.
Aku juga tidak memperkenalkan pada mereka yang berada di sekitar kita, karena ku pikir toh mereka hanya untuk beberapa bulan ini saja, toh mereka juga melakukan hal yang sama, toh tak ada urusannya antara aku-kami-mereka. Namun ternyata aku salah. Seharusnya aku memperhatikan lingkunganku.
2.  Tentang mereka, yang pernah kubawa masuk dan ku tinggalkan sebentar karena aku sedang menyiapkan sesuatu dengan temanku yang lain, aku tak tahu apapun tentang hal yang kau bicarakan itu, sungguh! Entah orang- orang itu yang salah persepsi, atau memang begitu adanya. Hanya dia-dia yang satunya lagi- dan Tuhan yang tau. Aku tak akan membawanya lagi, dengan alasan apapun, termasuk berbohong padanya mungkin :’)
3.  Aku bukannya tidak menghargai apa yang kau sediakan. Waktu itu aku benar- benar lupa membawanya, ditambah lagi barang bawaanku sangat banyak. Ya, memang saat itu aku juga sedang tidak mood. Maaf, namun percayalah aku tak bermaksud demikian.
4.  Belajar itu memang sudah menjadi tugasku,kan? Jadi tak perlu kau bilang bahwa aku melakukannya sampai dini hari karena sakit hati atau apalah itu atas perkataanmu semester lalu. Aku sama sekali tidak sakit hati kok, tenang saja. Karena aku tahu, usahaku memang tak maksimal waktu itu. Tapi walau tak maksimal, toh masih bisa dapet segitu kankankaaann, apalagi kalau maksimal HAHAHA #sombong! #staycool! B-) (oke, bagian ini merusak seluruh tulisan yang ku buat dengan rintik-rintik ini ^^v ).
Mmm, lalu apalagi ya... 
Aku lupa apalagi yang kau katakan waktu itu. But, thanks. I’ll do better :)

Senin, 22 April 2013

Singing isn’t this easy


Bernyanyi itu bukanlah hal mudah, kawan.

Kau tak cukup hanya sekedar melagukan syair dan lirik, berada di notasi yang tepat, punya suara yang cetar-membahana-badai-halilintar, warna suara yang unik, karakter yang kuat, teknik vokal yang high class, atau dinamika suara yang WOW!

Satu hal yang harus selalu kau ingat, kau juga perlu memberi jiwa pada lagu yang kau nyanyikan. Disinilah letak kesulitannya. Namun jika kau berhasil melakukannya, that song is definetly yours! ;)
Sing with your soul, not your logic ~


Kamis, 07 Maret 2013

Mrs. Jayus *oups!

Hell-o, saya hadir kembali. Kali ini dengan mengusung tugas negara ( lebay!). oke, kali ini tugas negara didapatkan dari mandat dadakan via badai halilintar seorang menteri pendidikan bernama Lussy blablabla ( saya lupa nama lengkap beliau dikarenakan terlalu panjang dan jauh berbeda dari nama di sebuah akun jejaring sosialnya. Fyi, beliau ini rada jayus dan garing, jadi wajar sajalah jika nama aslinya terlupakan oleh saya *sungkem sama bu Lussy* ).

Kebutuhan Manusia Akan Pendidikan
● Definisi Pendidikan
Menurut saya, pendidikan adalah sesuatu yang wajib dan pasti didapatkan oleh setiap manusia dari siapa saja/ apa saja yang ditemuinya. Mengapa demikian? Karena bagi saya pendidikan itu tidak harus didapatkan di bangku sekolah dengan seragam lengkap atau di bangku kuliah. Pendidikan juga tidak harus bersifat formal, tetapi juga informal. Setelah dilahirkan ke dunia, maka orang tua ( dan anggota keluarga lain) adalah orang- orang yang sangat berperan dalam memberikan pendidikan pertama kali bagi si bayi, baik itu pendidikan dalam bidang akademis, moral, maupun spiritual, sehingga orang- orang ini lah yang sedikit-banyak menentukan akan menjadi manusia seperti apa anak itu nantinya. Memasuki usia SD-SMA pendidikan (tambahan) yang diterima oleh seseorang didapatkan dari guru- guru di sekolah, atau saat kuliah dari dosen- dosen di perguruan tinggi. Namun, itu hanyalah pendidikan formal saja.
Pendidikan informal akan didapatkan saat berada di luar lingkungan itu, yaitu saat kita memasuki dinamika hidup dan kehidupan, dan menurut saya pendidik yang paling super duper canggih dan tak tergantikan sepanjang masa diantara para pendidik yang memiliki sederetan gelar akademik adalah proses kehidupan itu sendiri. Setiap manusia pasti mengalami sesuatu dan lain hal dalam perjalanan hidupnya. Dari berbagai macam kejadian dan pengalaman hidup itu, pastilah pula ditemukan adanya trial and error. Nah, sudah selayaknya manusia ( yang tentunya sudah mendapatkan bekal pendidikan sebelumnya) dapat berpikir dan mengambil pelajaran atas setiap error yang terjadi selama proses trial itu agar dikemudian hari error yang terjadi dapat dihindari.
Pendidikan juga menurut saya tidak selalu bersifat positif, tetapi bisa jadi bersifat negatif. Namun itu semua tergantung manusia- manusia yang memberi dan menerimanya, juga cara penyampaiannya. Pendidikan yang negatif misalnya seperti orang tua yang sering bertengkar di depan anaknya, atau seorang ayah yang sering memukuli isteri dan anak- anaknya. Secara tidak langsung, seorang anak yang menyaksikannya akan berpikiran bahwa ternyata bertengkar di depan orang lain bahkan di hadapan anak- anak adalah hal yang biasa saja dan wajar dilakukan, atau sebagai kepala keluarga ternyata memukuli isteri dan anak adalah hal yang sah- sah saja dilakukan. Sehingga kemungkinan besar hal- hal seperti itu akan tertanam dalam dirinya dan dia akan mengingatnya sampai dewasa bahkan mungkin akan melakukan hal yang sama saat sudah berumah tangga.
Pendidikan juga tidak mengenal yang namanya faktor usia; tua–muda, anak-anak –dewasa, atau istilah belum cukup umur –kadaluarsa. Begitu juga dengan sistem gender; laki-laki –perempuan, dan mungkin sistem kasta antara si kaya dan si miskin, si anak komplek dengan si anak kampung. Semua orang ( berapapun usianya, apapun status sosialnya, dan apapun jenis kelaminnya) berhak mendapatkan pendidikan, tidak ada yang bisa menghalang-halangi dan membatasinya. Tujuan dari pendidikan ini sendiri adalah tidak sekedar untuk membimbing dan mengarahkan potensi dan bakat yang ada dalam diri setiap manusia untuk berkembang, tetapi juga untuk menanamkan dan merekomendasikan nilai- nilai ( dalam hal ini tentu nilai- nilai kebaikan yang kita harapkan).
  
● Pendidikan sebagai Kebutuhan Dasar Manusia
Pada kenyataannya memang benar bahwa pendidikan adalah salah satu kebutuhan manusia. Seperti istilah yang sering kita dengarkan, pendidikan untuk memanusiakan manusia. Manusia dalam kenyataan hidupnya menunjukkan bahwa ia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak dirancang untuk dapat hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Dalam proses belajar itu seseorang saling tergantung dengan orang lain. Proses belajar dimulai dengan orang terdekatnya. yang selanjutnya proses belajar itulah yang menjadi dasar dari pendidikan. Seiring dengan perkembangan pikiran anak manusia, semakin berkembang pulalah sikapnya terhadap keluarga dan lingkungan. Orang tua sangat berperan mengarahkan anak ini menuju kesempurnaan pada tiap tahap kehidupannya, dan juga sangat dominan meningkatkan hidup sang anak dari cara yang alamiah menjadi berbudaya.
Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu. Dan semakin tinggi kebudayaannya maka semakin tinggi pula tingkat /taraf pendidikan atau cara mendidik orang tersebut.
Mendidik berarti meningkatkan mutu jasmani dan rohani seseorang menuju kondisi yang lebih baik menuju kesempurnaan. Disamping itu mendidik juga sekaligus berarti mempertahankan kebudayaan yang telah ada. Berbicara mengenai mempertahankan kebudayaan ini menyangkut memelihara kelanjutan hidup manusia.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur  dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material  yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Masalahanya adalah bahwa  manusia dalam memenuhi kebutuhan sering bersifat tidak terbatas, bersifat subyektif yang justru seringkali dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang paling dalam yaitu kehidupan rohaninya.
Produk pendidikan menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi kemudian manusia itu tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan justru menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdaya orang lain, kecerdikannya digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan berubah menghasilkan manusia yang serakah dan egois.

● Pentingnya Pendidikan untuk Kemajuan Masyarakat
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberi sumbangan kepada semua bidang pertumbuhan individu, seperti dalam pertumbuhan jasmani dan segi struktural dan fungsional. Pendidikan yang baik juga membantunya manusia menumbuhkan kesediaan, bakat-bakat, keterampilan dan kekuatan jasmaninya, begitu juga memperoleh pengetahuan.
Diantara segi-segi pertumbuhan dan persiapan yang mungkin disumbangkan oleh pendidikan kepada individu adalah membuka pribadi/ dirinya dan mengembangkan berbagai segi potensinya kearah yang diinginkan oleh masyarakat, memperkenalkan kepadanya akan hak-hak yang diberi kepadanya oleh Tuhan sebagai individu di dalam suatu masyarakat, begitu juga kewajiban-kewajiban, tanggung jawab dan kewajiban- kewajiban sebagai akibat dari hak-hak ini.
Kita tidak meragukan bahwa nasib orang yang tidak mendapat pendidikan yang baik dalam hal pertumbuhan dan persiapan ini jauh lebih sedikit dari pada orang-orang yang menerima pendidikan yang baik. Kalau kita berkali-kali menekankan pendidikan yang baik maka itu berarti bahwa pendidikan yang dapat membawa kepada pertumbuhan individu dan masyarakat yang menyeluruh adalah pendidikan yang baik. Ukuran baik di sini berbeda dari budaya kebudayaan dari masyarakat ke masyarakat lainnya, tetapi ada ukuran-ukuran yang disepakati oleh semua. Diantaranya adalah bahwa pendidikan itu harus mempunyai tujuan-tujuan tertentu dan jelas, dan bahwa hubungan-hubungan antara tujuan, rencana, kurikulum dan program-program pengajaran dengan tujuan-tujuan, kebutuhan masyarakat, kebutuhan individu di masyarakat itu dan budaya serta nilai-nilai masyarakat jelas. Begitu juga gerakan perbaikan dan pengembangan masyarakat kearah yang lebih baik haruslah didasarkan atas pninsip-prinsip ilimiah yang telah dikaji dengan matang dan secara terus menerus.
Kita harus sadar bahwa pendidikan yang baik adalah baik tujuan-tujuannya, baik kebijaksanaannya, baik guru-gurunya dan bangunan-bangunan serta sarananya. Masyarakat yang berusaha mencapai pendidikan yang baik harus terus menerus memperbaiki segi-segi ini semua berdasar pada ajaran-ajaran, nilai-nilai agamanya, ciri-ciri budayanya yang istimewa dan kebutuhan-kebutuhan dan tuntunan-tuntunan pertumbuhan yang menyeluruh dan juga berdasarkan pada hasil-hasil penelitian ilmiah yang benar dan eksperimen-eksperimen yang wajar dan berhasil.
Keterlibatan manusia dalam pendidikan harus dapat diarahkan untuk peningkatan budi pekerti dan akhlak. Jika tidak maka belum dapat dikatakan bahwa manusia berhasil menamai dirinya sebagai manusia sejati.